News

Mahakam yang Tak Pernah Tidur: Antara Nadi Kehidupan dan Maut di Ulak Besar

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – SUNGAI Mahakam bagi masyarakat Kalimantan Timur adalah segalanya. Ia adalah urat nadi, jalan raya raksasa, sekaligus sumber penghidupan. Namun, di balik ketenangannya yang berwarna cokelat pekat, Mahakam menyimpan sisi liar yang sewaktu-waktu bisa menelan apa saja yang melintas di atasnya.

Kamis sore (12/2/2026), sekitar pukul 16.30 WITA, kebuasan itu kembali terasa. Kali ini, Kapal Motor (KM) Dahliya F3 yang menjadi korbannya. Kapal yang rutin membelah arus rute Samarinda–Long Bagun itu menemui ajalnya di kawasan Ulak Besar, Desa Rantau Hempang, Muara Kaman.

Dalam sebuah video amatir yang beredar, suasana mencekam begitu terasa. Kapal yang memuat 42 penumpang dan 10 awak itu perlahan mulai kehilangan keseimbangan. Mesinnya mati seolah napas kapal itu terhenti tepat di titik paling krusial.

Pelan namun pasti, lambung kapal miring ke kanan. Suara teriakan penumpang beradu dengan gemuruh air yang mulai merangsek masuk ke dalam palka. Sembako, barang kebutuhan harian, dan harta benda penumpang yang sedianya akan diantar ke pedalaman Mahakam Ulu, kini berserakan, mengapung pasrah mengikuti arus sungai.

KM Dahliya F3 akhirnya karam di perairan dangkal yang menipu. Hanya dalam hitungan menit, investasi senilai Rp2 miliar itu lenyap ke dasar sungai.

Sekretaris Organisasi Angkutan Sungai Mahakam Ulu (ORGAMU) Samarinda, Adi Suryadi Budi, mengonfirmasi bahwa seluruh penumpang dan awak berhasil selamat. Sebuah mukjizat di tengah musibah. Namun, luka-luka ringan yang dialami empat penumpang menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di sungai ini.

Penyebabnya klasik namun fatal: pergeseran titik berat. Di jalur lurus Ulak Besar yang tampak tenang, kondisi air ternyata dangkal. Beban yang berlebihan dan tidak seimbang membuat kapal goyah. Saat air mulai masuk ke lambung, gravitasi melakukan tugasnya dengan kejam.

“Ini pengingat bagi kita semua. Mahakam bukan hanya soal jarak, tapi soal keseimbangan dan kepatuhan pada aturan,” ujar salah satu warga yang membantu evakuasi menggunakan ketinting.

Di tengah tragedi, solidaritas warga lokal di Muara Kaman menjadi cahaya. Tanpa dikomando, perahu-perahu ketinting kecil merapat, bahu-membahu menyelamatkan nyawa dan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Mereka adalah saksi hidup bahwa meski sungai bisa menjadi ancaman, kemanusiaan di sepanjang tepiannya tak pernah kering.

Kini, pihak Polsek Muara Kaman tengah mendalami penyebab pasti kejadian tersebut. Namun, pesan dari balik musibah ini sudah sangat jelas. Sungai Mahakam, dengan segala sejarah dan perannya, menuntut rasa hormat yang tinggi dari setiap pelayar.

Sidak dan imbauan keselamatan pelayaran bukan lagi sekadar formalitas. Penggunaan life jacket, kepatuhan pada kapasitas muatan, hingga pengecekan rutin mesin kapal adalah harga mati. Karena di Sungai Mahakam, satu kesalahan kecil dalam menghitung beban bisa berujung pada hilangnya mata pencaharian, atau yang lebih buruk, nyawa manusia.

KM Dahliya F3 kini mungkin telah berada di dasar sunyi Ulak Besar, namun ceritanya akan terus mengalir, mengingatkan siapa saja yang berani membelah Mahakam: jangan pernah meremehkan sang naga sungai saat ia sedang tenang. Red


Bagikan

Related Posts