Samarinda, Solidaritas – Samarinda kini punya alasan baru untuk berbangga. Masjid Raya Darussalam, bangunan ikonik yang telah menemani perjalanan sejarah Kota Tepian sejak era 1920-an, akhirnya tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan representatif.
Setelah melewati proses revitalisasi panjang yang dimulai sejak 2024, proyek bernilai Rp24,69 miliar ini resmi dituntaskan. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun, pada Jumat (13/2/2026), menjadi kado indah bagi warga kota di awal tahun ini.
Kini, saat Anda melangkah ke kawasan Masjid Raya Darussalam, kesan kokoh dan luas langsung menyambut. Revitalisasi selama dua tahun ini tidak hanya memperkuat struktur bangunan, tapi juga menyentuh aspek estetika dan kenyamanan fasilitas bagi jemaah.
Namun, bagi Andi Harun, renovasi ini bukan sekadar soal fisik bangunan. Ia bermimpi masjid ini menjadi detak jantung baru bagi aktivitas masyarakat.
“Kita bersyukur renovasi selesai dengan kualitas yang sangat bagus. Harapan kita, masjid ini menjadi pusat ibadah, pusat kajian keilmuan, hingga pusat kegiatan sosial yang mempererat persatuan warga,” kata Andi Harun di sela-sela peresmian.
Menilik sejarahnya, Masjid Raya Darussalam adalah saksi bisu transformasi Samarinda. Bermula dari sebuah bangunan kayu ulin sederhana bernama Masjid Jami’ pada tahun 1920, ukurannya kala itu hanya 25 x 25 meter dengan atap sirap yang bersahaja.
Bayangkan sebuah sudut di Samarinda di mana hiruk-pikuk kota seakan melambat, digantikan oleh ketenangan yang memikat. Posisinya pun sangat intim dengan alam, menghadap langsung ke riak Sungai Mahakam yang berkilau tertimpa cahaya, menciptakan harmoni sempurna antara kenyamanan modern dan pesona alami sungai yang ikonik ini. Di sini, setiap embusan angin membawa kesegaran, mengundang siapa pun untuk sejenak berhenti dan meresapi keelokan aliran air yang melegenda.
Seiring bertambahnya penduduk, masjid ini terus bersalin rupa. Renovasi besar pertama terjadi pada 1952 di bawah tangan dingin arsitek Dinas PU, Van Der Vyl, dan arahan tokoh legendaris APT Pranoto. Sejak saat itu, masjid ini tumbuh menjadi identitas kota.
Keunikan utama Darussalam terletak pada lokasinya. Berdiri megah di tengah kepungan kawasan perdagangan dan pelabuhan yang bising, masjid ini sempat diragukan efektivitasnya di masa lalu.
Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Di tengah deru mesin dan aktivitas ekonomi yang padat, Masjid Raya Darussalam justru hadir sebagai “oase rohani”—tempat di mana para pedagang, pekerja, dan warga menepi sejenak untuk mencari ketenangan.
Kini, di atas lahan seluas 15.000 meter persegi, Masjid Raya Darussalam siap melanjutkan perannya sebagai simbol persatuan. Dengan sentuhan teknologi konstruksi modern tanpa meninggalkan nilai historisnya, masjid ini tidak hanya menjadi tempat bersujud, tapi juga menjadi rumah yang nyaman bagi siapa saja yang ingin memperdalam ilmu dan memperkuat ikatan sosial. Red









