Mahakam Ulu- Solidaritas – Di peta Kalimantan Timur, Kecamatan Long Apari hanyalah titik kecil di ujung utara, sebuah wilayah yang menjaga kedaulatan di tapal batas Malaysia. Namun, di balik statusnya sebagai beranda depan negara, tersimpan getir yang panjang. Di sana, kemerdekaan seolah belum sepaket dengan sepiring nasi murah.
Bagi warga setempat, harga-harga di label toko bukan sekadar angka; itu adalah beban hidup yang mencekik leher.
Bayangkan Anda harus mengeluarkan Rp250.000 hanya untuk membawa pulang sekarung beras 5 kilogram. Di kota besar, uang itu cukup untuk stok sebulan, namun di Long Apari, itu hanyalah permulaan.
Daniel Jivan, Kepala Adat Long Penaneh kepada Solidaritas mengatakan bahwa dapur warga di sana adalah dapur yang mahal. harga Gula pasir dibanderol Rp30.000 per kilogram, sementara harga satu karungnya bisa mencapai angka fantastis Rp1,25 juta. Jika ingin menggoreng lauk, warga harus menebus minyak goreng 2 liter seharga Rp87.000. Bahkan untuk sebutir telur, harganya mencapai Rp5.000—yang artinya satu piring telur bisa menyentuh angka Rp600.000.
“Ini bukan soal gaya hidup, ini soal bertahan hidup,” kata Daniel.
Hal ini jelas bukan harapan kami yang hingga saat ini hanya mengandalkan hasil alam atau kerja serabutan, angka-angka ini adalah horor harian yang nyata.
Daniel mengaku bahwa untuk menuju kedaerahnya merupakan perjuangan yang berat, selama ini untuk menuju kedaerah yang dikenal memiliki hutan yang masih alamai ini harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Untuk membawa kebutuhan pokok dari ibu kota kabupaten, Ujoh Bilang, menuju Long Apari, barang-barang harus menempuh perjalanan sungai yang ekstrem. Biaya transportasi per orang saja mencapai Rp1,2 Juta. Angkutan logistik harus melewati jeram-jeram atau riam sungai yang melegenda keganasannya.
Logistik warga berada di bawah belas kasihan alam, seperti saat musim kemarau perjalanan akan terhambat air sungai surut, kapal karam, distribusi macet, dan harga pun meroket. Sementara pada musim hujan debit air meninggi, menciptakan riam-riam maut yang siap menelan apa pun yang melintas.
BBM pun menjadi barang mewah yang langka, dijual eceran seharga Rp30.000 per liter. Mobilitas warga pun akhirnya lumpuh jika kantong tak lagi sanggup mengimbangi harga.
Long Apari adalah bukti nyata bahwa jarak masih menjadi musuh utama kesejahteraan. Di tanah yang kaya akan sumber daya alam, ironi tumbuh subur; warga perbatasan membayar harga berlipat-lipat lebih mahal untuk kebutuhan yang di kota besar dianggap sebagai hak dasar yang murah.
Persoalan di ujung Mahakam Ulu ini bukan sekadar urusan ekonomi makro, melainkan tentang rasa keadilan. Hingga jalur darat yang layak tembus atau distribusi logistik yang disubsidi secara masif menyentuh titik nol negara ini, warga Long Apari akan terus hidup dalam bayang-bayang nestapa di tengah melimpahnya kekayaan bumi Kalimantan.
Bagi mereka, wajah Indonesia seharusnya tidak hanya hadir lewat patok perbatasan, tapi juga lewat harga beras yang manusiawi.
Di tengah kekhawatiran warga, Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Bapanas, Yudhi Harsatriadi Sandyatma, mengatakan abhwa pemerintah telah menunjukan langkah nyata untuk merespon terhadap anomali harga di lapangan.
“Kami menyikapi adanya pemberitaan bahwa di Mahakam Ulu terdapat informasi beras per karungnya mencapai hampir Rp1 juta. Hari ini, sebagai tindak lanjut, kami melakukan penyuplaian beras premium, beras SPHP, dan Minyakita untuk menghadirkan pangan yang terjangkau bagi masyarakat,” kata Yudhi belum lama ini.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal peringatan bagi para spekulan pasar. Dengan dukungan penuh dari Bulog dan pengawalan ketat dari Satgas Pangan Polda Kaltim, distribusi ini tidak hanya sekadar mengirim barang, tetapi juga mengaudit alur distribusi agar tidak ada celah bagi oknum yang ingin mengambil keuntungan tidak wajar di tengah kesulitan warga.
Intervensi berkelanjutan direncanakan akan terus dilakukan jika stabilitas harga di Mahakam Ulu belum kembali normal dalam beberapa pekan ke depan. Arian









