Kab. Kutai Kartanegara

Nestapa di Ladang Sendiri, Kala Kebun Bu Didin Terhimpit Bayang-Bayang Tambang

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Bagi Bu Didin, tanah di RT 02 Desa Rapak Lambur bukan sekadar hamparan bumi. Ia adalah tumpuan hidup, tempat ia dan kelompok taninya menggantungkan harapan melalui setiap benih yang mereka tanam. Namun belakangan, kecemasan lebih cepat tumbuh daripada tanaman mereka.
Menghadapi perubahan cuaca atau serangan hama adalah risiko yang sudah lama dipikul petani dengan lapang dada. Namun, ketika kerusakan datang bukan dari tangan alam, melainkan dari aktivitas manusia yang berjalan tanpa pengawasan, rasa ikhlas itu berubah menjadi luka.
Hanya berjarak ratusan meter dari kebun hijau milik warga, sebuah pemandangan kontras terlihat jelas: pembukaan lahan tambang batu bara yang masif. Tanpa perlindungan atau pembatas yang memadai, kehadiran industri ekstraktif ini seolah menjadi ancaman sunyi yang siap menerjang lahan pertanian warga kapan saja.
” Kalau hanya serangan hama atau penyakit kami para petani sudah tau penangkalnya, lah ini serangan datang dari serangan air bercampur lumpur yang berasal dari tambang batu bara, kami jelas tidak bisa menangkalnya,” keluh ibu Didin di lahan pertanian miliknya.
Sementara itu Arian pemerhati pertanian Kukar mengatakan kejadian ini bukan lagi soal musibah yang tak terelakkan. Ini adalah bentuk kelalaian yang disengaja. Pembangunan yang seharusnya membawa kesejahteraan, kini justru berdiri di atas rasa was-was para petani yang khawatir lahan mereka akan rusak oleh dampak lingkungan yang tak terkendali.
“Pembukaan lahan ini dilakukan tanpa perlindungan yang memadai bagi lahan pertanian di sekitarnya,” ungkap Arian dengan nada getir.
Ketakutan warga bukan tanpa alasan. Tanpa mitigasi yang jelas, risiko pencemaran air, debu yang merusak kualitas tanaman, hingga potensi banjir lumpur saat hujan tiba, kini menghantui keseharian kelompok tani di Desa Rapak Lambur.
Kisah Bu Didin adalah potret nyata dari benturan antara kebutuhan energi dan hak hidup masyarakat lokal. Ketika pengawasan terhadap aktivitas tambang diabaikan, petani kecil yang selalu menjadi pihak pertama yang menanggung beban paling berat.
Kini, warga Desa Rapak Lambur hanya bisa berharap ada tindakan nyata dari pihak terkait. Mereka tidak meminta tambang berhenti total, mereka hanya menuntut hak untuk tetap bisa bertani dengan tenang di tanah mereka sendiri—tanpa rasa takut akan kehancuran yang dipicu oleh kelalaian di seberang kebun mereka. Red

Bagikan

Related Posts