Kota Samarinda

Hujan Tak Menyurutkan Langkah Peneliti UGM di Atas Jembatan Mahulu yang “Luka”

Bagikan

Samarinda, Solidaritas  Langit Kota Samarinda boleh saja abu-abu dan menumpahkan air hujan, namun di atas aspal basah Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), aktivitas justru memuncak. Di tengah rintik yang menyapu kota pada Rabu (4/2/2026), pemandangan tak biasa terlihat,  sejumlah orang berseragam jas hujan sibuk berkutat dengan kabel dan perangkat sensor canggih.

Mereka adalah tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang didatangkan khusus oleh Dinas PUPR-PERA Kaltim. Meski kondisi cuaca tidak bersahabat, para peneliti ini tetap memanjat dan membungkuk di beberapa sudut jembatan untuk memasang alat Non-Destructive Test (NDT) dan sensor uji dinamis.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR-PERA Kaltim, Muhammad Muhran, menyebutkan bahwa cuaca memang sempat menjadi kendala teknis pagi tadi. Namun, mengingat vitalnya fungsi Jembatan Mahulu bagi mobilitas warga, pengujian tidak bisa ditunda lebih lama lagi.
“Tim penguji baru tiba dari Ambon, ditambah kondisi hujan yang sempat mengguyur menunda pelaksanaan pagi tadi. Karena itu, pengujian baru bisa dilaksanakan jam 10.00 WITA,” ungkap pria yang akrab disapa Aan ini di tengah suasana lapangan yang dingin.
Alat-alat yang dipasang para peneliti UGM ini berfungsi layaknya stetoskop medis. Mereka sedang membaca “denyut” struktur pada Pilar P9 dan P10 yang baru saja dihantam tongkang batu bara pada akhir Januari lalu. Jas hujan yang mereka kenakan menjadi pelindung di tengah tugas krusial: memastikan apakah hantaman ketiga ini telah melukai struktur permanen atau hanya merusak fender pelindung saja.
Aan mengungkapkan, berdasarkan hasil pengujian sebelumnya, kondisi Jembatan Mahulu sejatinya dinyatakan aman dan sehat. Namun, pemerintah tidak ingin bermain dengan nyawa warga. Prinsip kehati-hatian tetap dikedepankan mengingat insiden tabrakan telah terjadi hingga tiga kali.
“Secara teknis, jembatan dinyatakan aman. Namun karena ini merupakan kejadian ketiga, kami merasa perlu memastikan kembali kondisi struktur jembatan,” tegasnya.
Selain urusan keselamatan, insiden ini juga membawa konsekuensi finansial yang besar bagi pihak penabrak. Berdasarkan perhitungan sementara, nilai kerugian akibat kerusakan ini ditaksir mencapai lebih dari Rp10 miliar. Pihak perusahaan pun telah menyatakan komitmennya untuk bertanggung jawab atas kerusakan aset vital milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tersebut.
Selama proses ini, Jembatan Mahulu benar-benar sunyi dari kendaraan. Penutupan akses dilakukan agar getaran yang dibaca oleh sensor murni berasal dari struktur jembatan, bukan dari kendaraan yang melintas.
Dinas PUPR-PERA menargetkan seluruh rangkaian pengujian rampung hari ini juga. Kerja keras para ahli di bawah guyuran hujan ini adalah bentuk ikhtiar agar warga Samarinda tidak lagi dihantui rasa cemas saat melintasi sungai Mahakam. Ketika hasil uji keluar nanti, barulah kepastian tentang kekuatan jembatan ini akan menjadi pegangan resmi bagi pemerintah untuk membuka kembali akses secara penuh sebagai urat nadi logistik Kaltim. Red

Bagikan

Related Posts