Samarinda, Solidaritas – Bagi warga Kota Tepian, aroma Ramadan sudah mulai terasa di cakrawala. Namun, di balik antusiasme menyambut bulan penuh berkah tersebut, terselip kekhawatiran klasik yang kerap menghantui setiap tahunnya: lonjakan harga pangan dan tiket perjalanan.
Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memilih untuk tidak bersantai. Di ruangan yang terletak di Lantai III Balai Kota, Senin (19/1/2026), kesibukan terlihat jelas. Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengumpulkan seluruh lini pertahanan ekonomi kota—mulai dari Satgas Pangan hingga TPID—untuk merumuskan “benteng” pelindung bagi kantong masyarakat.
Inflasi bukan sekadar deretan angka di atas kertas bagi Pemkot Samarinda. Data historis yang dipaparkan Deputi Bidang Statistik BPS RI, Pudji Ismartini, menunjukkan pola yang jelas: kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu menjadi motor utama inflasi saat Ramadan tiba. Berkaca pada Maret 2025, kontribusi kelompok ini mencapai 0,37 persen.
“Kita tidak boleh hanya melihat angka, tapi harus menyiapkan langkah konkret,” tegas Saefuddin Zuhri di tengah rapat koordinasi tersebut.
Kabar baik datang dari lumbung pangan. Perum Bulog Samarinda memberikan kepastian yang menenangkan: stok beras sebanyak 8.670 ton dan persediaan Minyakita telah terkunci aman untuk tiga bulan ke depan.
Di pasar-pasar tradisional, mayoritas komoditas strategis seperti cabai, bawang putih, dan daging ayam juga dilaporkan masih stabil di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Meski demikian, pengawasan ketat tetap dilakukan pada beberapa barang yang mulai “merangkak” naik melampaui ambang batas, seperti gula pasir, daging sapi, dan telur ayam ras.
Selain urusan piring di meja makan, Pemkot juga menatap ke atas—tepatnya ke harga tiket transportasi udara. Sejarah mencatat, mudik seringkali dibarengi dengan lonjakan tarif yang mencekik. Saefuddin Zuhri secara khusus meminta Dinas Perhubungan untuk “jemput bola” berkoordinasi dengan pihak terkait.
“Lonjakan tarif tidak boleh memberatkan masyarakat yang ingin bersilaturahmi. Kita perlu langkah pengendalian yang terukur,” pintanya.
Persiapan menghadapi Ramadan 1447 H kali ini bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ini adalah upaya memastikan bahwa saat bedug Maghrib bertalu, warga Samarinda bisa berbuka puasa dengan tenang tanpa harus dipusingkan oleh harga yang tak masuk akal.
Menutup koordinasi tersebut, Saefuddin Zuhri mengingatkan bahwa semua rencana di atas kertas tidak akan berarti tanpa aksi nyata di lapangan. Baginya, kesiapan penuh dan tindakan konkret adalah kunci agar stabilitas ekonomi tetap terjaga, sehingga keberkahan Ramadan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa beban finansial yang menghimpit.
Samarinda kini bersiap, memastikan setiap dapur tetap mengepul dan setiap perjalanan mudik tetap terjangkau. Red









