Berbekal kemauan buruk dan tutorial dari internet, RR nekat menyulap peralatan dapur dan berbagai barang bekas menjadi mesin pencetak narkotika. Tak butuh pabrik megah, RR menciptakan alat produksinya sendiri untuk meracik ineks.
Langkah nekat RR disinyalir berawal dari sulitnya mencari pekerjaan setelah keluar dari penjara. Namun, bukannya menyerah pada keadaan, ia justru memilih jalur pintas. Dengan memanfaatkan jaringan lama yang ia bangun selama berkecimpung di dunia hitam, RR mengajak RN—yang juga seorang residivis—untuk bekerja sama.
Kapolsek Samarinda Seberang, AKP Baihaki, mengungkapkan bahwa kolaborasi dua mantan narapidana ini sangat terorganisir.
“Dia dibantu RN untuk mencari pelanggan. Karena keduanya sudah lama berkecimpung di bidang ini, tidak sulit bagi mereka untuk memasarkan produk buatan sendiri tersebut,” kata AKP Baihaki kepada Solidaritas di kantornya senin (19/1/2026).
Meski diproduksi dengan alat rakitan dari barang bekas, produk RR tergolong variatif. Ia menciptakan tiga jenis ineks dengan bentuk yang berbeda untuk menarik minat pembeli, yakni model Gorila, Segi Enam, dan Iron Man.
Bahannya ia menggunakan sabu sabu yang dibeli dari jaringanya , kemudian dicampur dengan alkohol dan beberapa obat kimia Yang dibeli dari apotik.
Dalam sekali produksi, RR mampu mencetak sedikitnya 20 butir ekstasi. Barang haram tersebut kemudian dilempar ke pasar gelap Samarinda dengan harga yang bervariatif, mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu per butir.
Namun, sepandai-pandainya RR dan RN melompat, akhirnya jatuh juga di tangan hukum. Praktik produksi narkoba rumahan ini berhasil dibongkar oleh aparat kepolisian. Mimpi RR untuk sukses menjadi “pengusaha” narkoba dari barang bekas kini harus kandas.
Kini, RR dan RN harus kembali ke balik jeruji besi—tempat yang seharusnya memberikan mereka pelajaran di masa lalu. Atas tindakan nekatnya membangun pabrik narkoba, keduanya terancam melanggar UU Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Bagi mereka, penjara kali ini mungkin bukan lagi tempat “belajar”, melainkan tempat untuk menghabiskan sisa usia atas pilihan hidup yang salah. Red









