Samarinda, Solidaritas – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik yang masif, sebuah gerakan kemanusiaan bertajuk “Sekolah Rakyat” mulai menanam akar yang lebih dalam di tanah air.
Tepat pada Senin (12/1/2026), Pemerintah secara resmi memulai Ground Breaking Sekolah Rakyat Tahap II, sebuah proyek ambisius yang dirancang bukan sekadar membangun gedung, melainkan membangun martabat anak-anak dari keluarga paling rentan.
Program ini lahir dari kegelisahan akan “kemiskinan struktural”—sebuah siklus di mana kemiskinan orang tua seolah menjadi warisan yang tak terelakkan bagi anak-anak mereka. Lewat Sekolah Rakyat, pemerintah mencoba memutus rantai tersebut.
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, dalam sambutannya di hadapan Presiden Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat adalah jawaban bagi mereka yang selama ini disebut sebagai the invisible people.
“Biasanya anak orang miskin, anaknya miskin. Kita harus berani mengubah itu. Mereka yang sering tidak kita lihat dan tidak merasakan kemerdekaan negara, kini harus merasakan kehadiran negara,” ujar Mensos dengan penuh penekanan.
Data berbicara tentang betapa mendesaknya program ini. Dari 166 titik sekolah yang sudah beroperasi di 34 provinsi, mayoritas siswanya berasal dari keluarga yang berjuang di garis bawah ekonomi. Sekitar 67 persen orang tua mereka berpenghasilan di bawah Rp1 juta per bulan dengan tanggungan keluarga yang besar. Bahkan, ditemukan fakta menyentuh bahwa 454 siswa yang terjaring sebelumnya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di bangku sekolah.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, gairah sekolah rintisan ini sudah mulai terasa. Meski saat ini masih menumpang di fasilitas sementara seperti Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), antusiasme siswa tak terbendung.
Kepala Dinas Sosial Kota Samarinda, Mochammad Arif Surochman, mencatat ada sekitar 188 siswa di Samarinda yang terbagi dalam jenjang SD, SMP, hingga SMA yang kini menanti gedung baru mereka selesai dibangun.
“Nantinya, setelah bangunan Sekolah Rakyat ini selesai, anak-anak dari sekolah rintisan tersebut akan bergeser ke lokasi baru,” jelas Arif. Ia juga menegaskan bahwa penjaringan masih terus dilakukan, menyasar anak-anak jalanan dan mereka yang putus sekolah agar bisa mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Sekolah Rakyat tidak didesain seperti sekolah biasa. Konsepnya adalah boarding school atau sekolah berasrama. Di sini, negara tidak hanya memberikan buku dan pensil, tapi juga menjamin seluruh kebutuhan hidup siswa.
Mulai dari tempat tinggal yang nyaman, makanan bergizi, hingga kebutuhan paling personal seperti pakaian luar dan dalam, semuanya ditanggung oleh negara. Fasilitas lengkap ini diberikan agar siswa hanya perlu memikirkan satu hal: belajar dan meraih mimpi.
Melalui Ground Breaking Tahap II ini, pemerintah optimistis bahwa pendidikan berkualitas bukan lagi menjadi kemewahan milik segelintir orang. Bagi anak-anak di kolong jembatan, anak buruh tani, hingga pemulung, Sekolah Rakyat adalah pintu gerbang menuju masa depan di mana kemiskinan tidak lagi menjadi takdir yang mutlak. Red









