Kutai Kartanegara, Solidaritas – Provinsi Kalimantan Timur baru saja bersolek merayakan hari jadinya yang ke-69 pada awal Januari 2026 ini. Di usia yang kian matang, dibalut pundi-pundi APBD 2025 yang menyentuh angka fantastis Rp 21 triliun, Kaltim kerap dicitrakan sebagai penopang masa depan bangsa.
Namun, di balik angka-angka megah itu, sebuah potret buram pendidikan tersaji nyata di Desa Selerong, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Siapa sangka, di tanah yang kaya ini, ratusan siswa harus mengecap pendidikan di fasilitas yang jauh dari kata layak. Bukan gedung sekolah dengan laboratorium lengkap yang mereka temui setiap pagi, melainkan gedung bulu tangkis desa dan sebuah bangunan bekas gudang yang disulap menjadi ruang kelas.
Nasib pilu ini dialami oleh 233 pelajar yang berasal dari desa-desa di sekitar Kecamatan Sebulu hingga Muara Kaman. Di sana, terdapat dua institusi yang “berbagi” ruang: SMK Negeri 1 Sebulu (Filial) dan SMK Negeri 3 Sebulu yang baru dibentuk oleh Pemerintah Provinsi Kaltim.
Kondisinya kian janggal. Meski SMK Negeri 3 sudah resmi berdiri secara administratif selama dua tahun terakhir, belum ada satu pun guru definitif yang ditempatkan di sana. Beban mengajar akhirnya bertumpu sepenuhnya pada pundak para guru dari SMK Negeri 1 Sebulu.
Malik Ewin, salah satu guru yang setia mengabdi di sana, menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya harus menjadi “manusia super”.
“Jumlah guru tidak banyak, jadi kami harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran. Saya sendiri mengajar Pertanian sekaligus Agama,” ujar Malik saat ditemui di sela kegiatannya. Bahkan, ia mengungkapkan ada rekan guru lain yang terpaksa merangkap hingga lima mata pelajaran sekaligus, terutama pelajaran eksakta seperti Matematika dan IPA.

Ironi ini semakin dalam mengingat Pemerintah Desa Selerong sebenarnya telah menyiapkan lahan seluas 2 hektare untuk pembangunan sekolah. Namun, hingga detik ini, belum ada tanda-tanda dari Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim untuk mengucurkan anggaran pembangunan fisik.
Padahal, kebutuhan akan gedung sekolah sangat mendesak. Malik menjelaskan bahwa banyak anak-anak dari desa tetangga yang tidak tertampung dan terpaksa bersekolah secara daring dari rumah dengan kondisi internet yang sering timbul tenggelam.
“Harapan kami sederhana, pemerintah segera membangun sekolah ini agar kapasitas siswa bisa ditambah dan anak-anak tidak perlu menempuh jarak jauh atau bergantung pada sinyal internet untuk belajar,” tegasnya.
Meski belajar di antara dinding gudang dan lantai semen gedung olahraga, semangat para siswa tidak luntur. Malik mencatatkan bahwa siswa-siswi SMK di Selerong ini justru kerap mengukir prestasi, baik akademik maupun non-akademik di tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Potensi mereka luar biasa. Berbagai penghargaan lomba sudah mereka bawa pulang. Ini bukti bahwa otak mereka mampu bersaing, meski fasilitas yang diberikan negara sangat minim,” tambah Malik.
Kini, di tengah euforia perayaan HUT Kaltim ke-69, masyarakat Desa Selerong hanya bisa menanti. Mereka menunggu kapan kiranya anggaran triliunan rupiah itu “mampir” ke desa mereka dalam bentuk bangunan sekolah yang layak, agar masa depan anak-anak di pelosok Sebulu tidak lagi tersekap di dalam gudang. Red









