Samarinda, Solidaritas – Minggu (4/1/2026) dini hari yang tenang di kawasan Sengkotek, mendadak pecah oleh suara benturan logam raksasa yang memekakkan telinga. Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), infrastruktur vital yang dibangun sejak 2006, kembali menjadi “korban” keganasan arus sungai dan hilir mudik industri batu bara.
Belum kering ingatan warga Samarinda akan insiden serupa di pengujung tahun 2025 lalu, kini di awal tahun 2026, jembatan yang menghubungkan Loa Buah dan Sengkotek ini kembali harus menahan beban hantaman dua ponton sekaligus.
Kejadian bermula saat kapal tunda (tugboat) Bloro 7 yang menarik tongkang Robby 311 dan Raja Laksana 165 yang menarik tongkang Danny 95 tengah melakukan manuver di tengah sungai. Mereka sedang menunggu giliran untuk melakukan pengolongan (melintas di bawah jembatan).
Namun, alam punya rencana lain. Diduga arus Sungai Mahakam yang mengalir sangat deras saat itu membuat kendali hilang. Kedua ponton raksasa tersebut bersenggolan di tengah sungai, menciptakan efek domino yang tak terelakkan. Tenaga mesin kapal tunda tak lagi mampu melawan daya dorong air yang begitu kuat hingga kedua tongkang tersebut terseret ke arah pilar jembatan.
Edi, seorang warga Loa Buah yang sehari-hari akrab dengan napas Sungai Mahakam, menjadi saksi bisu mencekamnya momen tersebut. Awalnya, ia mendengar suara gaduh dari frekuensi radio HT yang mengabarkan adanya ponton hanyut.
“Saya langsung cek pakai ketinting ke tengah. Benar saja, dua ponton sudah ‘bersandar’ di pilar jembatan. Sebelumnya ada suara tabrakan keras sekali, braakk! Begitu saya sampai, posisinya sudah terjepit,” ujar Edi dengan nada cemas.
Pemandangan di bawah Jembatan Mahulu pagi itu tampak mengerikan. Satu ponton terjepit dalam posisi lurus menghantam pilar, sementara ponton lainnya melintang tepat di bawah dek jembatan, menghalangi jalur pelayaran.
Upaya penyelamatan berlangsung dramatis. Di tengah arus yang masih menderu, petugas dan kru kapal berusaha melepaskan jeratan besi-besi raksasa tersebut dari pilar jembatan.
Butuh waktu sekitar satu jam hingga satu ponton yang ditarik 3 kapal tugboad tugboad berhasil ditarik menjauh ke arah hulu, sementara satu ponton lainnya masih tertahan menunggu proses evakuasi lebih lanjut agar tidak merusak struktur jembatan lebih parah.

Di lokasi kejadian, personel kepolisian dari Polresta Samarinda bergerak cepat. Garis polisi dan pemantauan ketat dilakukan untuk menyelidiki penyebab pasti kecelakaan, apakah murni faktor alam atau ada unsur kelalaian manusia (human error) dalam prosedur manuver tersebut.
Insiden berulang ini memicu kekhawatiran publik mengenai ketahanan struktur Jembatan Mahulu. Sebagai jembatan yang sudah berdiri selama hampir tiga dekade, hantaman bertubi-tubi dari ponton batu bara ibarat bom waktu yang mengancam keselamatan warga yang melintas di atasnya.
Kini, warga hanya bisa berharap ada langkah konkret dari otoritas terkait—baik BBPJN Kalimantan Timur maupun pihak Syahbandar—untuk memastikan keamanan jembatan dan memperketat aturan pelayaran di jalur nadi Kalimantan Timur ini. Sebelum pilar-pilar tua itu benar-benar menyerah pada arus dan hantaman beban ribuan ton batu bara. Red








