Kutai Kartanegara, Solidaritas – Komando Distrik Militer (Kodim) 0906/Kutai Kartanegara (KKR) mulai mengambil langkah proaktif dalam memitigasi potensi bencana hidrometeorologi. Merespons dampak banjir besar yang sempat melanda wilayah Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu, jajaran Kodim KKR kini fokus menyusun rencana kontigensi sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat di Kutai Kartanegara (Kukar).
Dandim 0906/KKR, Letkol Arm Benny Budiman, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima instruksi langsung dari komando atas untuk meningkatkan kesiapsiagaan operasional. Rencana kontigensi ini dirancang sebagai panduan cepat jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan debit air di wilayah Kukar.
“Berkaitan dengan kejadian bencana banjir di Kalimantan Selatan, kami dari komando kewilayahan mendapat petunjuk untuk segera menyusun rencana kontigensi. Ini adalah langkah antisipasi agar kita lebih siap dan dampak bencana bisa diminimalisir di Kukar,” ujar Letkol Benny saat dikonfirmasi pada Kamis (1/1/2026).
Penyusunan rencana ini dipastikan akan melibatkan seluruh unsur terkait secara terpadu. Kodim 0906/KKR menekankan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan Pemerintah Daerah serta pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya.
“Kami akan mengajak pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mematangkan rencana kontigensi ini. Tentu harapan kita semua bencana tidak terjadi, namun kesiapan personel dan materiil harus berada di level tertinggi,” tegasnya.
Langkah ini merupakan implementasi dari prinsip mitigasi bencana yang mengedepankan preventif daripada reaktif. Menurut Benny, filosofi “sedia payung sebelum hujan” menjadi landasan utama agar setiap instansi sudah memahami peran masing-masing saat situasi darurat terjadi.
Dalam waktu dekat, Dandim 0906/KKR dijadwalkan berkoordinasi secara intensif dengan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, Kapolres AKBP Khairul Basyar, serta seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Rapat koordinasi tersebut akan membahas detail pemetaan titik rawan, jalur evakuasi, hingga kesiapan logistik di wilayah Kutai Kartanegara sepanjang tahun 2026. Red








