Kutai Kartanegara, Solidaritas- Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah mengingatkan bahwa kegiatan peringatan merah putih tidak hanya sekedar kegiatan seremonial, bahkan orang nomor satu di Pemkab Kukar ini mengatakan bahwa kegiatan Napak Tilas bukan kegiatan Rekreasi karena ada nilai perjuangan dalam kegiatan itu.
“Napak tilas ini juga bukan hanya sekedar rekreasi semata tetapi ada makna yang tersirat didalamnya bahwa ada perjuangan yang diberikan oleh para pahlawan bagi generasi muda untuk terus berjuang dimasa depan,” kata Edi Damansyah saat membuka Pesta Rakyat Merah Putih dan Pelepasan Napak Tilas pada Minggu (26/1/25) di Monumen Merah Putih Sangasanga Muara.
Lebih lanjut Edi Damansyah yang didampingi Dandim 0906 Kukar Letkol Czi Damai Adi Setiawan berharap Napak tilas Merah putih ini menjadi salah satu pengingat bangsa akan perjuangan para pahlawan dan juga dapat semakin meningkatkan rasa persatuan dan persaudaraan diantara masyarakat di Kecamatan Sanga-sanga maupun di Kutai Kartanegara.
“Saya harap ini bisa menjadi salah satu wadah komunikasi dan penguat ikatan kebersamaan masyarakat Kutai Kartanegara, napak tilas ini juga menjadi salah satu pelajaran bahwa 78 Tahun yang lalu ada perjuangan rakyat melawan penjajah di Sanga – sanga, jelas Edi Damansyah.
Perjuangan Merah Putih di Sanga-Sanga yang puncak perjuangan terjadi pada tanggal 27 Januari 1947 dan berakhir pada tanggal 30 Januari 1947 dengan adanya serangan dari tentara Belanda.
Peristiwa heroik ini berawal ketika tentara Belanda (NICA) pada 1945 menguasai Sangasanga yang kaya minyak bumi, sehingga membuat rakyat Sangasanga bersama para pejuang yang tergabung dalam Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) mengusir Belanda, dengan melakukan perlawanan tanpa hentinya.
Pejuang Sangasanga kemudian mengadakan rapat untuk merebut gudang senjata Belanda dengan cara mengalihkan perhatian penjajah ke berbagai keramaian kesenian pada 26 Januari 1947.
Di tengah keramaian itu, para pejuang membagikan senjata dan amunisi untuk merebut kekuasaan, pukul 03.00 Wita dini hari, perjuangan pun berhasil, sehingga pukul 09.00 Wita, Sangasanga berhasil dikuasai pejuang, ditandai dengan penurunan bendera Belanda di Sangasanga Muara oleh La Hasan.
Bendera Belanda yang terdiri tiga warna, yakni merah, putih, dan biru ini, kemudian dirobek warna birunya, lalu dinaikkan kembali bendera yang tinggal berwarna merah putih dengan upacara yang dihadiri para pejuang dan seluruh masyarakat.
Sebagai tanda peringatan perjuangan, di Sangasanga dibangun monumen perjuangan dan terukir nama-nama pejuang yang gugur pada saat itu. Peristiwa tersebut diperingati sebagai peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga 27 Januari. Red








