Samarinda, Solidaritas – Kalimantan Timur adalah surga tersembunyi yang menyimpan jutaan cerita. Mulai dari keindahan alamnya yang asri, keunikan budaya lokal, kelezatan kuliner, hingga kekayaan flora dan faunanya. Namun, keindahan itu sering kali hanya menjadi cerita yang berlalu begitu saja jika tidak diabadikan lewat untaian kata yang menarik.
Menyadari potensi besar tersebut, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) mengambil langkah nyata. Mereka mendorong para penulis dan kreator lokal untuk ikut ambil bagian dalam mempromosikan daerah melalui karya literasi yang kreatif, informatif, dan memiliki daya pikat tinggi bagi pembaca luas.
“Sebuah cerita yang luar biasa tidak akan memiliki dampak yang luar biasa jika tidak mampu disampaikan dengan cara yang menarik,” tegas Kepala Dispar Kaltim, Muhammad Faisal, saat membuka Workshop Penulisan Kreatif di Temindung Creative Hub, Samarinda.
Bagi Faisal, kunci utama dari sebuah tulisan yang hidup terletak pada kepekaan sang penulis itu sendiri. Menulis bukan sekadar merangkai kata di atas kertas atau layar, melainkan bagaimana seorang kreator mampu mengoptimalkan kecakapan melihat dan mendengar lingkungan sekitarnya.
“Ketika kita mendengar dengan baik dan melihat dengan baik, harusnya kita bisa menulis dengan baik,” tuturnya.
Faisal menyayangkan banyaknya potensi wisata dan kebudayaan Kaltim yang sangat bagus namun belum terangkat secara optimal ke permukaan. Kelemahan ini sering kali terletak pada bagaimana cara kisah tersebut dikemas.
Padahal, jika ditulis dengan gaya bahasa yang menyentuh dan estetik, narasi tersebut bisa menjadi kekuatan besar untuk menarik perhatian dunia luar agar datang berkunjung ke Benua Etam.
Untuk mewujudkan misi tersebut, sebuah wadah edukasi disiapkan. Lokakarya penulisan kreatif digelar selama dua hari, tepatnya pada 7–8 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mengasah teknik kepenulisan sekaligus bertukar pengalaman tentang dunia pariwisata Kaltim.
Tidak tanggung-tanggung, materi lokakarya dirancang secara komprehensif dengan menghadirkan para ahli di bidangnya. Mulai dari perspektif seni bersama Founder Rumah Seni Nirwana, Sophie Razak; sudut pandang akurasi data bersama sejarawan dan editor, Muhammad Sarip; hingga sentuhan estetika bahasa bersama penulis dan sastrawan, Inni Indarputri.
Kepada para peserta dan penulis muda, Faisal menitipkan sebuah pesan penting tentang arti sebuah proses. Menjadi penulis yang hebat tidak terjadi dalam semalam. Penulis yang baik bukanlah mereka yang selalu menghasilkan karya sempurna sejak awal, melainkan mereka yang memiliki konsistensi tinggi untuk terus belajar dan memperbaiki setiap goresan penanya.
“Menulislah terus. Banyak hal kreatif yang ada di sekitar kita untuk dijadikan bahan tulisan,” pesan Faisal menyemangati.
Melalui gerakan literasi kreatif ini, Dispar Kaltim berharap akan lahir gelombang baru kreator konten dan penulis lokal yang bangga membagikan cerita daerahnya.
Dengan begitu, kekayaan destinasi, budaya, serta geliat ekonomi kreatif Kalimantan Timur bisa semakin dikenal, dicintai, dan bergaung lebih luas hingga ke tingkat nasional maupun internasional. Red









