Samarinda, Solidaritas – Dua bulan terakhir menjadi waktu yang amat menguras energi bagi tim penanggulangan bencana di Kota Samarinda. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas memaksa para petugas BPBD, Disdamkarmat, hingga relawan bekerja ekstra keras di garis depan.
Namun, perjuangan panjang di tengah kepungan asap dan debu sisa pembakaran ini mulai dibayar mahal dengan bertumbangnya kesehatan para pejuang kemanusiaan tersebut.
Menyikapi kondisi yang kian memprihatinkan, aksi pemeriksaan kesehatan gratis digelar di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda pada Rabu (7/10/2026) siang.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian sekaligus deteksi dini terhadap kondisi fisik para petugas dan relawan yang kesehatannya mulai menurun.
Suasana di ruang tunggu Kantor BPBD Kota Samarinda tampak berbeda hari itu. Sejumlah petugas dan relawan yang biasanya terlihat mengenakan pakaian lusuh penuh noda arang, seragam merah atau oranye khas pemadam, helm pelindung, serta sarung tangan tebal, kini terlihat bersantai.
Mereka bukan sedang mengantre untuk pembagian seragam baru, melainkan menunggu giliran pemeriksaan kesehatan dari tim medis Puskesmas Temindung Samarinda. Layanan gratis ini dikhususkan bagi mereka yang selama dua bulan terakhir tanpa lelah memadamkan kobaran api karhutla di wilayah Samarinda.
Hasil pemeriksaan medis cukup mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan. Banyak relawan ditemukan dalam kondisi tidak sehat. Selain mengalami penurunan tekanan darah atau tensi secara drastis akibat kelelahan kronis, beberapa di antaranya bahkan mulai menunjukkan gejala penyakit kronis.
Salah satu potret nyata dari dampak fisik ini dialami oleh Muhammad Kustiani, staf Bagian Operasional BPBD Kota Samarinda. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tensi darah Kustiani terpantau sangat rendah dan berada jauh di bawah batas normal.
Meski fisiknya sedang tidak prima, dedikasinya tidak surut. Ia terpantau tetap profesional melanjutkan tugasnya memantau laporan titik api dari masyarakat.
“Iya, selama ini sudah tiga kali tanggap darurat perpanjangan. Sudah sebulan lebih, kurang istirahat pasti,” ujar Muhammad Kustiani dengan raut wajah lelah.
Layanan kesehatan yang dihadirkan tim medis terbilang lengkap dan komprehensif. Tidak hanya pemeriksaan tensi darah dan pengecekan gula darah, para petugas juga diberikan pemeriksaan kesehatan jiwa guna mendeteksi tingkat stres tingkat tinggi yang rentan dialami akibat tekanan situasi darurat di lapangan.
Bagi para petugas, pemeriksaan berkala ini menjadi jembatan agar mereka tetap bisa melangsungkan tugas kemanusiaan dengan aman.
“Sangat bermanfaat terutama bagi kami yang terjun langsung ke lapangan. Terutama juga untuk relawan-relawan lain yang sangat memerlukan pemeriksaan kesehatan gratis. Apalagi kita setiap hari sering terpapar asap dan debu-debu bekas kebakaran,” ungkap Muhammad Isman, petugas penanggulangan bencana BPBD Kota Samarinda.
Paparan polusi udara akibat pembakaran hutan dalam jangka panjang memang menjadi musuh tidak terlihat bagi para pemadam. Yanti, petugas pendataan pasien dari Puskesmas Temindung, memaparkan bahwa kondisi karhutla akhir-akhir ini sangat memprihatinkan, dan petugas lapangan menjadi kelompok paling rentan karena terlalu lama menghirup partikel sisa pembakaran.
“Untuk yang saya lihat ini beda-beda ya. Tadi ada yang sudah terkena batuk pilek, ada juga yang kena radang. Jadi kalau demikian, kita langsung arahkan ke faskes masing-masing. Tadi juga ada yang tensinya rendah, ada yang gula darahnya rendah, sehingga kita arahkan ke faskes untuk tindak lanjut,” tutur Yanti di lokasi pemeriksaan.
Sementara itu, Koordinator Relawan Kota Samarinda, Joko Iswanto atau yang akrab disapa Jokis, menegaskan bahwa pemeriksaan gratis ini adalah langkah awal yang sangat krusial. Ia mengingatkan agar para pejuang yang menyelamatkan lingkungan tidak sampai mengabaikan keselamatan diri sendiri.
“Dengan cek kesehatan ini, kita bisa mengetahui kondisi kesehatan rekan-rekan relawan yang selama dua bulan ini terus berjibaku membantu pemerintah menangani karhutla di Samarinda. Dari catatan kami, selama dua bulan ini sudah ada sekitar 15 relawan yang mengalami sesak napas saat penanganan. Selain itu, ada juga rekan kami yang mengalami luka bakar. Ini menjadi koreksi dan perhatian kita bersama bahwa safety itu sangat penting, dan menjaga kesehatan itu sangat berharga,” tegas Jokis.
Aksi ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa di balik padamnya api karhutla, ada raga-raga yang bertaruh nyawa. Peningkatan kesadaran keselamatan kerja, kecukupan waktu istirahat, serta pasokan logistik medis bagi para relawan kini menjadi pekerjaan rumah bersama demi kelangsungan misi kemanusiaan di Samarinda. Red









