LIFE
Humaniora

Bara Harapan di Balik Seragam Guru: Kisah Robby, Guru di Senoni yang Merambah Hutan Demi Arang

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Mentari belum tepat di atas kepala ketika Robby menyeka keringat di dahinya. Di sebuah sekolah swasta di Desa Senoni, ia baru saja usai menunaikan tugas mulianya mencerdaskan anak bangsa.
Namun, alih-alih pulang untuk beristirahat, menggunakan kendaraanya,  Jupiter MX , Robby justru bersiap menuju rimbunnya hutan Senoni dengan membawa perlengkapan fisik yang kontras dengan buku pelajaran.
Sudah tiga bulan terakhir, Robby dan beberapa rekan sejawadnya harus menghadapi kenyataan pahit, honor yang menjadi tumpuan hidup belum juga turun. Di tengah ekonomi yang tidak menentu, menyerah pada keadaan bukan menjadi pilihan bagi pria ini.
Bersama empat orang rekannya yang bernasib serupa, Robby memilih untuk tetap produktif. Mereka memutuskan untuk mengolah kayu menjadi arang sebagai jalan penyambung hidup.

Ritme hidup Robby selama sepekan terakhir berubah drastis. Pagi hari, ia tetap berdiri tegak di depan kelas, memberikan materi pelajaran dengan penuh dedikasi. Namun, saat lonceng pulang berbunyi, ia segera berganti peran.
Robby saat mengepak arang kedalam karung, Foto : Arian
Bersama tim kecilnya, Robby masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu-kayu yang layak diproduksi menjadi arang. Keluar masuk hutan sudah menjadi rutinitas siang hingga sore harinya.
“Kegiatan ini untuk mengisi waktu, karena tugas utama sebagai guru di sekolah usai. Daripada mengeluh, lebih baik kami melakukan sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan,” ujar Robby tenang.
Meski harus berjibaku dengan debu hitam dan asap pembakaran arang, tak ada raut malu di wajah mereka. Baginya, setiap butir arang yang dihasilkan adalah simbol harga diri agar tidak terus-menerus meratapi keterlambatan gaji.

Meski harus memeras keringat mulai dari pencarian kayu hingga proses pembakaran, Robby dan rekan-rekannya tetap tegar. Walau uang yang dihasilkan tak sebanding dengan lelahnya, setiap rupiah yang didapat tetap menjadi penyelamat di tengah paceklik. Bagi mereka, kebersamaan di tengah hutan adalah penguat saat sandaran ekonomi lainnya tak kunjung pasti.

Kisah Robby di Senoni menjadi potret nyata ketangguhan tenaga pendidik di pelosok. Di saat hak mereka tertunda, mereka tetap memberikan yang terbaik untuk pendidikan, sembari tetap memeras keringat di tengah hutan demi memastikan dapur di rumah tetap mengepul.
Kini, Robby hanya berharap kondisi ekonomi segera membaik dan hak-hak para guru kontrak dapat segera terealisasi. Namun hingga saat itu tiba, kepulan asap arang di Senoni akan terus menjadi saksi bisu perjuangan mereka yang tak mau kalah oleh keadaan. Arian

Bagikan

Related Posts