Samarinda, Solidaritas – Matahari terasa lebih menyengat di langit Samarinda belakangan ini. Masuknya musim kemarau bukan sekadar soal cuaca yang gerah, tapi juga membawa alarm kewaspadaan bagi warga Kota Tepian.
Di tengah ancaman api yang bisa muncul kapan saja, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Samarinda kini memperketat barisan.
Bukan tanpa alasan, data sepanjang awal tahun 2026 menunjukkan bahwa api tak pernah benar-benar beristirahat. Tercatat ada 20 kejadian kebakaran di Januari, disusul 13 kejadian di Februari, dan 14 kejadian pada Maret.
Sementara itu berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Samarinda, tercatat sebanyak 185 kejadian kebakaran yang terjadi di Samarinda sepanjang tahun 2025.
Meski pemukiman padat penduduk masih menjadi titik paling rawan, potensi kebakaran lahan kering kini mulai menghantui seiring jarangnya hujan turun.

Kepala Disdamkarmat Kota Samarinda, Hendra AH, memastikan bahwa personelnya tidak sedang bersantai. Armada dan petugas kini dalam posisi siaga penuh 24 jam untuk merespons setiap percikan yang mengancam keselamatan warga.
“Damkar selalu siaga. Fokus utama kami adalah memastikan api tidak mendekati atau merembet ke pemukiman warga. Begitu ada laporan kebakaran lahan yang mengancam rumah penduduk, tim langsung bergerak cepat,” ujar Hendra, Jumat (3/4/2026).
Menariknya, ada pembagian tugas yang rapi dalam menjaga Samarinda. Jika api berkobar di hutan atau semak belukar yang jauh dari hunian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan menjadi garda terdepan. Namun, Hendra menegaskan bahwa sinergi adalah kunci.
“Kalau di lahan jauh, itu ranah BPBD. Tapi kami tetap siap menyuplai air atau bantuan apa pun jika diminta. Intinya, ini semua demi keselamatan masyarakat Samarinda,” tambahnya.
Selain faktor alam, musuh utama di musim kemarau justru sering datang dari dalam rumah, seperti korsleting listrik dan kebocoran gas. Hendra pun menitipkan pesan sederhana namun krusial bagi warga: periksa kembali instalasi listrik, sediakan alat pemadam sederhana, dan yang paling penting, jangan membakar sampah sembarangan.
“Musim kemarau membuat api menyebar jauh lebih cepat dari biasanya. Di saat seperti ini, kewaspadaan bersama adalah kunci agar Samarinda tetap aman dan nyaman,” pungkasnya. Red









