Zenica, Solidaritas – Langit di Zenica Stadium, Rabu (1/4) dini hari, seolah ikut meratapi nasib malang Italia. Untuk kali ketiga secara beruntun, dunia harus menerima kenyataan pahit: Piala Dunia kembali digelar tanpa kehadiran sang kolektor empat trofi emas, Gli Azzurri.
Kekalahan adu penalti 1-4 melawan Bosnia Herzegovina bukan sekadar statistik di papan skor, melainkan babak baru dalam periode paling kelam sejarah sepak bola Negeri Pizza.
Drama ini dimulai dengan harapan tinggi saat Moise Kean menyarangkan gol di menit ke-15. Namun, petaka kartu merah Alessandro Bastoni sebelum turun minum mengubah segalanya.
Italia yang dominan perlahan kehilangan keseimbangan, hingga gol balasan Haris Tabakovic di menit ke-79 menyeret mereka ke lubang keputusasaan.
Di babak adu penalti, eksekusi buruk Pio Esposito dan Bryan Cristante akhirnya menyegel kutukan yang tampaknya enggan beranjak dari pundak Italia sejak 2014.
Di pinggir lapangan, Gennaro Gattuso tampak terpukul. Mantan gelandang petarung yang kini menjabat pelatih itu tak kuasa menyembunyikan luka hatinya.
“Saya telah berkecimpung di dunia sepak bola selama bertahun-tahun, terkadang saya bersukacita, tapi hari ini saya menerima pukulan yang sangat telak,” ucapnya dengan nada lirih.
Bagi Gattuso, kegagalan ini adalah ketidakadilan bagi para pemainnya yang sudah berjuang dengan seluruh jiwa di lapangan.
Kini, Italia bukan lagi raksasa yang ditakuti, melainkan tim besar yang kesulitan sekadar mencari tiket masuk ke panggung dunia.
Absen di Rusia 2018, Qatar 2022, dan kini AS-Kanada-Meksiko 2026 menjadi alarm keras bagi federasi sepak bola mereka.
Tanpa pembenahan total, harga diri Italia sebagai kiblat sepak bola dunia perlahan akan memudar, meninggalkan penggemarnya dalam penantian tanpa ujung yang menyakitkan. Red









