Internasional

Tragedi di Lebanon Selatan: Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL

Bagikan

Lebanon, Solidaritas – Langit Lebanon Selatan berubah kelam bagi kontingen Garuda. Dalam kurun waktu 48 jam, Indonesia kehilangan tiga putra terbaiknya yang tengah mengemban misi suci perdamaian PBB (UNIFIL). Gugurnya para prajurit ini menjadi tumbal pahit dari eskalasi konflik yang membara di perbatasan Israel-Lebanon.

Rentetan duka dimulai pada Minggu (29/03). Praka Farizal Rhomadhon gugur setelah hantaman proyektil meledak tepat di dekat pos Indonesia di desa Adchit Al Qusayr. Namun, maut belum beranjak. Keesokan harinya, Senin (30/03), sebuah ledakan hebat menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, merenggut nyawa dua prajurit TNI lainnya dan meninggalkan satu personel dalam kondisi kritis.

Kepala Operasi Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, mengonfirmasi tragedi ini dengan nada berat. “Ini adalah serangan yang menghancurkan,” ujarnya di Markas Besar PBB, New York.

Insiden berdarah ini merupakan dampak langsung dari pecahnya kembali perang antara Israel dan milisi Hizbullah sejak Maret 2026—buntut dari serangan besar-besaran terhadap Iran di akhir Februari. Wilayah operasi TNI kini berubah menjadi palagan aktif yang tak kenal ampun.

Meski militer Israel (IDF) menyatakan tengah melakukan penyelidikan dan berdalih bahwa insiden tersebut terjadi di area pertempuran sengit, Indonesia tidak tinggal diam. Penolakan IDF untuk langsung bertanggung jawab memicu reaksi keras dari Jakarta.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, langsung mengambil langkah diplomasi agresif. Lewat pernyataan tegas di platform X, ia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar pertemuan darurat.

“Keselamatan pasukan penjaga perdamaian tidak dapat ditawar!” tegas Sugiono. Bagi Indonesia, nyawa prajurit yang menjaga perdamaian dunia adalah harga yang terlalu mahal untuk dikorbankan dalam kelalaian perang.

Gugurnya ketiga prajurit ini menandai titik terendah bagi misi UNIFIL tahun ini. Dengan 1.200 personel yang bertugas, Indonesia adalah penyumbang pasukan terbesar. Kini, di tengah puing-puing ledakan di El Tayeb dan Bani Hayyan, dunia menanti: mampukah PBB melindungi para penjaga damainya, ataukah hukum rimba perang akan terus memakan korban jiwa?


Bagikan

Related Posts