Penajam Paser Utara, Solidaritas – Di tengah deru mesin konstruksi dan megahnya tiang-tiang pancang di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, sebuah bunyi yang berbeda mulai terdengar. Bukan dentum alat berat, melainkan petikan syahdu alat musik Sape yang berpadu dengan kepak sayap kostum Hudoq yang magis. Ibu kota baru Indonesia ini sedang bersolek, bukan hanya dengan beton, tapi dengan nyawa kebudayaan.
Langkah Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memperkenalkan budaya lokal kepada pengunjung bukan sekadar hiburan pelepas lelah. Ini adalah upaya menghadirkan wajah Nusantara yang sebenarnya di tanah Sepaku.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw mengatakan, gedung-gedung pemerintahan yang megah akan terasa hambar tanpa interaksi manusia dan ekspresi seni. Melalui tajuk “Simfoni Swara Nusantara”, pengunjung diajak menyelami kekayaan Dayak Bahau dan Modang lewat tarian Hudoq, hingga kemegahan kostum Garuda yang menjadi simbol pemersatu bangsa.
“Pagelaran seni ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan suasana yang lebih hidup. Kami ingin ruang publik di IKN diisi oleh interaksi antara pembangunan fisik dan kehidupan masyarakat,” ujar Troy, Senin (30/3).
Pemandangan ini memberikan warna kontras yang indah: di satu sisi ada ambisi masa depan dalam bentuk bangunan modern, di sisi lain ada akar masa lalu yang dijaga lewat kesenian tradisional.
Perubahan suasana ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang datang dari berbagai penjuru. Idris, pengunjung asal Balikpapan yang sudah berulang kali bertandang ke IKN, merasakan perbedaan mencolok. Jika dulu ia hanya melihat progres bangunan, kini ia merasakan atmosfer sebuah kota yang mulai “bernapas”.
“Sekarang lebih ramai dan meriah. Rasanya sudah seperti kota besar, apalagi sampai ke kawasan Istana. Suasananya jauh lebih hidup,” tutur Idris dengan antusias.
Senada dengan Idris, Udin, warga lokal dari Kecamatan Babulu, merasa kehadiran panggung seni ini melengkapi pengalamannya. Baginya, IKN kini bukan lagi sekadar proyek raksasa yang jauh dari jangkauan, melainkan ruang yang ramah dan menghibur bagi keluarga yang ingin melihat sejarah bangsanya sedang ditulis.
Dengan memadukan musik kekinian dan instrumen tradisional, IKN sedang mengirimkan pesan ke seluruh penjuru negeri: bahwa pembangunan ibu kota bukan berarti meninggalkan identitas. Melalui tiap langkah penari Sanggar Seni Serumpun Lima dan setiap petikan Sape, IKN sedang membangun jati dirinya sebagai pusat peradaban yang menghargai akar budaya tanah Borneo.
Kini, pengunjung yang pulang dari KIPP IKN tidak hanya membawa foto latar belakang Istana Negara, tetapi juga kenangan akan hangatnya sambutan budaya Nusantara yang mulai bersemi di jantung Kalimantan Timur. Red









