Kab. Kutai Kartanegara

Saat Daun Kratom Mengangkat Harkat Hidup Warga Kukar

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Di sepanjang bantaran Sungai Mahakam yang tenang, sebuah pemandangan karib kerap terlihat: warga sibuk menjemur dedaunan hijau di halaman rumah mereka.
Daun itu adalah Kratom (Mitragyna speciosa), tanaman endemik Kalimantan yang selama bertahun-tahun tumbuh liar, namun kini bermetamorfosis menjadi tumpuan harapan ekonomi baru bagi ribuan keluarga di Kutai Kartanegara.
Selama ini, Kratom hanyalah komoditas mentah yang dijual apa adanya. Namun, angin segar berembus dari Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang. Di sana, sebuah pabrik pengolahan milik PT DJB Botanicals Indonesia telah berdiri tegak, menjadi bukti bahwa pemerintah tidak membiarkan warga berjuang sendirian di pasar gelap.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, melihat potensi besar ini sebagai “napas buatan” bagi ekonomi kerakyatan, terutama di wilayah hulu seperti Kota Bangun, Muara Wis, hingga Kembang Janggut. Baginya, ini bukan sekadar urusan ekspor-impor, melainkan tentang bagaimana memastikan setiap helai daun yang dipetik warga memiliki nilai yang layak untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
“Kratom bisa menjadi nilai tambah ekonomi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai,” ujar Rendi dengan optimisme tinggi saat meninjau pabrik tersebut, Senin (30/3).
Kehadiran pabrik ini mengubah pola lama. Jika dulu warga hanya menjual daun kering, kini perusahaan menggandeng mereka sebagai mitra penyedia bahan baku. Ada rasa aman yang hadir ketika korporasi dan rakyat berjalan beriringan.
Kepastian ini diperkuat dengan terbitnya Permendag Nomor 21 Tahun 2024. Setelah sempat berada dalam zona abu-abu, ekspor Kratom kini resmi diakui negara. Bagi Rendi dan Pemkab Kukar, regulasi ini adalah “lampu hijau” untuk melangkah lebih jauh: menyusun Peraturan Daerah (Perda) bersama DPRD demi melindungi hak-hak petani.
“Alhamdulillah sekarang aman. Kami akan menyempurnakan lewat Perda untuk melindungi petani kita,” tegas Rendi.
Namun, ia juga menitipkan pesan penting bagi para petani di bantaran riparian sungai. Seperti halnya rumput laut, kualitas adalah kunci. Warga diajak untuk tidak sekadar memanen, tapi menjaga mutu budi daya agar “Emas Hijau” dari Mahakam ini bisa bersaing di pasar dunia.
Kratom memang dikenal secara global sebagai tanaman obat untuk mengatasi kecemasan dan depresi. Namun bagi warga Kukar, manfaatnya lebih dalam dari itu. Kratom adalah jembatan menuju kesejahteraan. Di bawah naungan regulasi yang jelas dan dukungan pabrik pengolahan lokal, tanaman yang dulunya dianggap semak belukar ini kini menjadi simbol kemandirian ekonomi dari hulu Mahakam.
Kini, setiap kali warga menjemur daun di bawah terik matahari Kaltim, ada senyum yang lebih lebar. Karena mereka tahu, daun-daun itu tak lagi sekadar terbang terbawa angin, tapi akan kembali ke rumah mereka dalam bentuk masa depan yang lebih cerah. Red

Bagikan

Related Posts