Samarinda, Solidaritas- Sungai Mahakam bukan sekadar perlintasan air bagi warga Kalimantan Timur; ia adalah urat nadi kehidupan. Menyadari besarnya risiko yang mengintai di balik hilir mudik kapal besar, DPRD Kaltim kini tengah bergerak serius menata ulang titik tambat ponton di sepanjang sungai legendaris ini.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Rentetan insiden ponton lepas kendali belakangan ini telah menebar kecemasan. Bagi warga yang setiap hari melintasi Jembatan Mahakam atau Jembatan Mahulu, struktur beton tersebut adalah penyambung hidup. Jika sampai dihantam kapal yang hanyut, dampaknya bukan hanya soal rusaknya aset negara, tapi lumpuhnya konektivitas ribuan orang.
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, menegaskan bahwa penataan ini adalah bentuk kasih sayang dan perlindungan bagi warga. “Ini adalah perhatian serius kita bersama. Kita tidak ingin ada tragedi. Jika titik tambat tidak diatur, ponton yang hanyut bisa menghantam jembatan. Bayangkan dampaknya bagi mobilitas dan ekonomi warga kita,” ungkapnya dengan nada penuh empati, Sabtu (29/3).
DPRD mendorong penggunaan teknologi Automatic Identification System (AIS) agar pengawasan tak lagi hanya mengandalkan pandangan mata yang terbatas, terutama di kegelapan malam.
“Jika ada tali putus di tengah malam saat warga sedang terlelap, sistem ini akan memberi peringatan dini. Petugas bisa langsung bertindak sebelum kapal hanyut lebih jauh dan membahayakan,” jelas Hasanuddin. Tak hanya teknologi, kapal pengawas juga disiagakan 24 jam di titik-titik krusial untuk memastikan sungai tetap aman bagi siapa saja.
Selain aspek keselamatan, penataan 33 titik tambat yang sedang dikaji ini diharapkan mampu membawa berkah bagi daerah. Selama ini, banyak titik tambat yang beroperasi tanpa regulasi yang jelas.
Dengan pengelolaan yang legal dan profesional melalui kolaborasi BUMN serta BUMD, potensi pendapatan daerah (PAD) bisa dioptimalkan. Hasilnya tentu akan kembali kepada rakyat dalam bentuk pembangunan yang lebih merata.
Meski wilayah Sungai Kunjang dan Sungai Lais telah muncul sebagai opsi lokasi, Hasanuddin menekankan bahwa segala kebijakan akan digodok matang-matang oleh komisi terkait. Tujuannya satu: memastikan Sungai Mahakam tetap menjadi kawan yang aman bagi nelayan, pengusaha, hingga masyarakat umum yang menggantungkan hidup di tepiannya. Red









