Samarinda, Solidaritas – Sebuah pondok yang berada di kawasan Handil Bhakti , samping jalan tol Samarinda-Balikpapan, menjadi saksi berakhirnya kisah cinta Sutini wanita lima puluh tahun warga lempake yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang sayur keliling di kota Samarinda.
Harapan Sutini untuk memperbesar usahanya, harus terkubur selamanya. Alih-alih mendapatkan modal dagang yang dijanjikan, nyawanya justru melayang di tangan kekasihnya sendiri, KSR, seorang kakek berusia 80 tahun.
Tragedi berdarah ini terungkap setelah jasad Sutini ditemukan mengenaskan di sebuah pondok kayu di kawasan Handil Bakti, tepat di samping Jalan Tol Samarinda-Balikpapan, Kecamatan Palaran.
Kisah kelam ini bermula dari hubungan asmara antara dua insan lanjut usia yang sama-sama telah menyendiri. KSR dan Sutini dulunya adalah tetangga dekat di Jalan Bojonegoro, Palaran, yang kemudian menjalin hubungan emosional selama setahun terakhir.
Kapolsek Palaran, Kompol Iswanto, sebelum kejadian nahas pada Selasa (24/2), keduanya sempat menghabiskan waktu bersama.
“Mereka sempat memesan penginapan dan melakukan hubungan layaknya suami istri di sana,” kata Iswanto di kantornya selasa (03/03/2026).
Keesokan harinya, mereka kembali bertemu di kawasan Stadion Palaran. Sutini yang datang dari Lempake kemudian berboncengan motor dengan pelaku menuju sebuah gubuk terpencil di Handil Bakti untuk kembali memadu kasih.
Namun, suasana romantis itu seketika berubah menjadi maut. Usai berhubungan intim di gubuk tersebut, Sutini menagih janji pelaku yang sebelumnya pernah menjanjikan uang tambahan modal usaha sebesar Rp10 juta.
KSR yang saat itu tidak membawa uang merasa tersudut. Cekcok mulut pun pecah. Merasa kesal terus didesak, sang kakek kehilangan akal sehatnya. Ia membalikkan badan korban dan melilitkan selendang milik Sutini ke leher wanita malang tersebut hingga lemas.
“Tak berhenti di situ, untuk memastikan korban benar-benar tak bernyawa, KSR tega memukul rahang korban berkali-kali,” jelas Iswanto.
Setelah memastikan kekasihnya tewas, KSR berusaha menutupi perbuatannya. Jasad Sutini disandarkan ke dinding pondok, lalu ditutupi dengan karung bekas pakan ternak dan sebuah jeriken di atas tubuhnya. Pelaku kemudian melenggang pergi pulang ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa.
Kasus ini akhirnya terungkap setelah Tim Reskrim Polsek Palaran bersama Jatanras Polresta Samarinda melakukan penyelidikan intensif dan melakukan autopsi pada jasad korban yang ditemukan pada Kamis (26/2). Pelaku akhirnya diringkus pada Sabtu (28/2) tanpa perlawanan berarti.
Kini, sang kakek harus menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi, mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah merenggut nyawa orang yang pernah ia cintai hanya karena perkara uang modal sepuluh juta rupiah. Red









