Ibukota Nusantara, Solidaritas – Di bawah langit cerah kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah babak baru bagi pelestarian hutan dan kesejahteraan warga Kalimantan Timur resmi dimulai. Sabtu (28/2/2026), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyerahkan surat legalitas perhutanan sosial kepada empat Kelompok Tani Hutan (KTH) asal Kutai Timur.
Penyerahan SK ini bukan sekadar urusan administratif. Bagi 140 kepala keluarga yang terlibat, dokumen tersebut adalah tiket menuju pengelolaan hutan yang legal, produktif, dan berkelanjutan di atas lahan seluas 833 hektare.
Prosesi penyerahan yang berlangsung di Aula Kemenko 3 IKN ini turut dihadiri Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Dalam sambutannya, Rudy menegaskan bahwa perhutanan sosial adalah jawaban konkret atas persoalan ekonomi masyarakat di pinggiran hutan.
“Ini bukan hanya soal menjaga tegakan pohon, tapi membuka peluang usaha baru. Mulai dari hasil hutan bukan kayu, agroforestri, hingga ekowisata. Langkah ini strategis untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Kaltim,” ujar Rudy dengan nada optimis.
Empat KTH yang menerima legalitas yakni KTH Meranti Bangun Makmur seluas 298 hektare untuk 35 kepala keluarga (KK), Hutan Kemasyarakatan KTH Quari Perjuangan seluas 160 hektare untuk 23 KK, Hutan Kemasyarakatan KTH Wana Makmur seluas 127 hektare untuk 32 KK, serta Hutan Kemasyarakatan KTH Sentosa Rimba seluas 248 hektare untuk 50 KK. Total 833 hektare kini sah dikelola masyarakat.
Usai menyerahkan SK, Menteri Kehutanan dan Gubernur Kaltim beranjak menuju Plaza Bhinneka Tunggal Ika untuk melakukan aksi nyata rehabilitasi hutan. Didampingi Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, sebuah simbol kuat ditanamkan ke bumi nusantara.
Gubernur Rudy menanam pohon Meranti, sementara Menhut Raja Juli menanam pohon Tengkawang. Dua jenis pohon ikonik Kalimantan ini menjadi simbol bahwa di tengah pesatnya pembangunan fisik IKN, kelestarian hutan tropis tetap menjadi prioritas utama.
“Keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam adalah kunci. Kita ingin pembangunan IKN melaju, tapi kualitas udara dan hutan kita tetap menjadi yang terbaik untuk generasi mendatang,” tambah Rudy.
Langkah ini menegaskan pesan kuat dari jantung ibu kota baru: bahwa hutan akan tetap lestari justru ketika masyarakat di sekitarnya dilibatkan, berdaya, dan sejahtera. Red









